P O L N A S

Kunjungan Industri Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Polnas Di Payung Rafting Bali

images
  • 24 November, 2021
  • 4 min read
Kunjungan Industri Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Polnas Di Payung Rafting Bali

Mahasiswa Politeknik Nasional, Program studi Usaha Perjalanan Wisata melakukan kunjungan industri ke salah satu usaha Arung Jeram / Rafting yakni di Payung Rafting yang berlokasi di Desa Melinggih Kelod Kecamatan Payangan Gianyar, Minggu 14 November 2021.

I Made Sudariana, ST atau yang lebih akrab disapa Gubag, merupakan pendiri sekaligus pemilik dari usaha Payung Rafting. Kepada mahasiswa Gubag bercerita bahwa, ide untuk mendirikan usaha rafting berawal ketika dia bermain rafting bersama temanya disalah satu usaha rafting yang dikelola orang asing. Gubag mendapat banyak ide dan inspirasi dari sepanjang rute yang dilalui. Dia tersadar ternyata tanah kelahiranya memiliki potensi yang luar biasa. Kala itu semua usaha rafting diskitar Ubud masih dikelola oleh orang asing. Akhirnya munculah ide untuk mencoba peruntungan diusaha rafting tersebut. Dengan bermodal 70 juta hasil dari penjualan mobil, Gubag memulai usahanya bersama salah seorang rekanya. Bermodal dari 2 perahu karet kala itu, pelan tapi pasti usahanya semakin berkembang hingga saat ini, dan menjadikanya orang lokal pertama yang membuat usaha dibidang arung jeram.

Payung Rafting sebenarnya singkatan dari Payangan Ayung Rafting, atau tempat rafting di Sungai Ayung Kecamatan Payangan Gianyar. Payung pada logo memiliki filosofi, diharapkan usaha ini bisa menjadi peneduh, pelindung, mengayomi dan menaungi yang ada dibawahnya. Semakin besar payung semakin luas pula yang bisa dinaungi. Dalam hal semakin besar usahanya berkembang semakin banyak pula yang dinaungi mulai dari keluarga, para karyawan, masyarakat setempat hingga pemerintah. Payung Rafting sudah berdiri selama 14 tahun tepatnya 17 Agustus 2007 pas hari kemerdekaan, dimana momen yang dipakai adalah ketika turun disungai untuk pertama kali.

Pemandangan di Sungai Ayung, juga sangat indah dan menakjubkan, terlihat dari hutan yang masih terjaga serta ukiran yang terdapat dibeberapa dinding batu di sungai dan cocok untuk peserta yang mencari aktivitas Rafting yang bersifat rekreasi dan santai. Hanya dengan harga USD 75 atau kurang lebih 1 juta rupiah per pax, untuk wisatawan asing dan Rp 175.000 untuk wisatawan domestik, sudah bisa bermain Arung Jeram di Payung Rafting.

Panjang rute yang dilalui kurang lebih sekitar 10 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Tidak ada usaha yang mudah, selalu ada tantangan dan rintangan, begitu juga yang dilalui Gubag. Persaingan antar usaha rafting yang membuat Gubag harus berpindah – pindah tempat. Sampai akhirnya dari 2017, Payung Rafting memilih Desa Pengaji sebagai lokasi usaha hingga kini. Alasanya sederhana, efisiensi, karena merupakan lahan milik sendiri, dan akses menuju loaksi start point rafting lebih mudah dan lebih dekat. Untuk promosi Gubag hanya memanfaatkan media sosial dan bekerja sama dengan beberapa travel agent. Gubag juga menjalin kerjasama dengan usaha lainya seperti usaha ATV, Swing dan lain – lain.

Untuk transport Gubag mengajak masyarakat setempat yang memiliki kendaraan untuk bergabung dengan usahanya. Untuk karyawanya sendiri masih bersifat Freelance dimana jasanya dipakai ketika diperlukan. Ada sekitar 80 persen karyawanya merupakan masyarakat lokal setempat. Pandemi covid-19 memang telah membuat usahanya mati suri. Pandemi telah mengajarkan bahwa dalam membangun usaha sebaiknya membuat usaha tidak hanya fokus pada satu bidang usaha saja, tetapi ada baiknya membuat usaha lain juga yang berbeda, agar ketika salah satu mengalami penurunan masih ada cadangan.

“Bertahan, hanya bertahan saja dan menjalankan usaha seperti sebelumnya. Bisa bertahan saja sudah bersyukur” ungkap Gubag ketika ditanya mengenai rencana kedepan jika pariwisata sudah normal kembali. Ada 10 dari 13 mahasiswa yang ikut dalam kegiatan kunjungan industri di Payung Rafting kali ini. Dengan didampingi Ibu Purnami Rusadi selaku dosen pengempu Mata Kuliah Kewirausahaan, para mahasiswa bisa bertatap muka dengan pemilik usaha dan melakukan tanya jawab serta sharing informasi terkait pendirian usaha.

“Jangan berpikir modal dahulu, yang penting ada niat dan tujuan, harus berani nekat, usaha sendiri dan fokus, pasti ada jalan” Pesan Gubag untuk mahasiswa ketika ditanya motivasi untuk pengusaha muda. Meski pada kesempatan tersebut tidak sempat bermain rafting, tetapi pengalaman bisa bertukar informasi, belajar hal baru terkait usaha rafting sudah sangat membuat kami para mahasiswa puas dan senang. Pengalaman dilapangan memang selalu lebih berkesan dibandingan hanya belajar teori semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2024 Politeknik Nasional. All rights reserved